Selasa, 22 Desember 2009

Di atas langit, masih ada langit

Ini kenangan saya  ketika bertemu dengan orang tertinggi di Indonesia yang berasal dari Tulang Bawang Lampung, yaitu  Suparmono (24).  Suparmono dinobatkan oleh MURI sebagai orang tertinggi di Indonesia pada tanggal 2 Desember 2009.  Tinggi badan Suparmono 242 cm (2,42 m).  Tapi untuk ukuran Dunia, Suparmono menduduki tempat ketiga setelah China dan Turki. 
Saya pernah menyaksikan Suparmono  di acara Bukan Empat Mata di TV swasta beberapa hari yang lalu.  Saya tidak menyangka bisa bertemu, bersalaman dan berfoto bersama.  Saya menjadi tidak seberapa tinggi dibanding orang ini.   Padahal saat ini tinggi saya 178 cm, cukup tinggi untuk ukuran rata-rata orang Indonesia (he...he...he...).

Tak lekang oleh panas , tak lapuk oleh hujan...


Itulah mestinya seorang marketing.  Ketika panas menyengat dan cucuran keringat membasahi pakaian, marketing terus maju. Tak jarang saat berkeliling dengan sepeda motor, cuaca berubah dan hujan tiba-tiba datang.   Meskipun sudah memakai jas hujan, tapi masih saja ada bagian yang basah terkena air hujan.  Dokumen yang terbuat dari kertas tetap basah meskipun sudah dibungkus plastik dan dimasukkan ke dalam tas.  Hape tetap lembab, meskipun sudah dibungkus kantong plastik.  Satu kali hape saya rusak karena kehujanan.  Pernah pula suatu saat tiket sebanyak seribu lembar lengket kena air hujan.   Terpaksa deh malam-malam digelar satu demi satu di atas lantai, dan setelah kering besoknya baru dikumpulkan lagi.  Belum lagi sepatu yang sering basah kuyup karena tidak terlindung  oleh air hujan.  Kaki mejadi basah dan tidak jarang menjadi sasaran empuk kutu air.
Setelah hujan kadang cuaca  langsung  berubah lagi menjadi panas.   Jas hujan biasanya gak sempat dilepas, karena tanggung dan mengejar waktu.  Kadang-kadang hujan berhenti saat saya berada dijalanan yang padat dan macet, sehingga jas hujan  tetap dipakai dan menjadi kering secara sendirinya.
Bertahun-tahun itu terjadi, dan saya menikmatinya.   Tetapi sekarang saya sudah tambah usia, daya tahan terhadap perubahan panas dan hujan yang ekstrim tidak sama seperti sepuluh tahun yang lalu.   Makanya saya sekarang melindungi diri saya dengan jas hujan yang lebih baik, sehingga badan tetap terlindung meskipun hujan deras.   Saya juga membawa sepatu boot yang tahan air.  Jadi ketika hujan saya tukar sepatu.
Ketika saya memakai sepeda motor bebek , maka jas hujan biasa ditaruh dibagasi depan.  Dijepit bersama helm cadangan.  Sekarang saya berganti dengan sepeda motor yang lebih besar (Honda Megapro New), tapi sayang gak ada tempat untuk menaruh helm dan jas hujan.  Pernah saya ikat memakai jaring, tapi merepotkan, karena harus mengikat dan membuka tali.   Selain itu, perhatian kita jadi tidak fokus ke jalan, karena sebentar-sebentar memeriksa ikatan.  Pernah helm lepas dari ikatan dan jatuh.
Akhirnya saya memutuskan secara bertahap untuk memakai box.  Setelah survey ke beberapa tempat, akhirnya saya menemukan jenis box dan ukurannya yang cocok dengan sepeda motor saya.
Pertama kali saya membawa motor dengan box, teman di kantor banyak yang memberikan tanggapan.   Biasa lah teman-teman, ada yang bercanda tapi tidak sedikit yang meragukan kegunaannya.
Box yang saya pakai berukuran 45 liter, cukup untuk membawa sebuah helm cadangan, tas, dan satu jas hujan.  Ketika bermotor sendirian Box 45 liter sudah memadai, tapi ketika berdua dengan istri maka jas hujan ditambah satu, tas ditambah satu, sepatu boot, dan tentengan yang lainnya.  Box  GIVI 45 liter menjadi gak muat, maka saya tambah lagi box GIVI samping dua buah , masing-masing berukuran 21 liter.  Jadi sekarang saya bisa membawa jas hujan 2 pasang, kunci-kunci, sepatu boot (ditaruh di box samping), dua buah tas, helm dalam box belakang.
Akhirnya, motor yang saya pakai menjadi berpenampilan seperti peserta touring.  Tidak jarang ketika di jalan raya, saya diklakson oleh anggota comunity, dikira saya lagi touring.
Teman-teman di kantor, seperti biasa memberikan tanggapan beragam.  Saya tidak terlalu memperhatikan apa yang mereka ucapkan.  Saya melengkapi motor saya karena sesuatu alasan yang masuk akal, jadi saya jalan terus.   Motor saya, terserah saya dong!  Motor aing...kumaha aing...!

Minggu, 13 Desember 2009

Naik kereta api...tut...tut...tut...siapa hendak turut...

Jadi ingat waktu saya masih kecil dulu.  Kira-kira tahun 70-an ketika kereta api jurusan Banjar -Pangandaran masih ada.  Saya senang sekali naik kereta api dari Banjar ke Banjarsari atau sebaliknya.  Terakhir saya naik kereta api ketika kelas 3 SMP dari Banjarsari ke Pangandaran.  Waktu itu study tur ke Pangandaran seluruh kelas 3 SMP Negeri Banjarsari.  Sayang sekali, sekarang kereta api itu sudah tidak beroperasi lagi.  Jalan kereta  yang tersisa masih terlihat meskipun sudah ditanami pohon-pohon pisang, tapi kenangan tentang kereta api itu masih berbekas setiap saya pulang kampung.
Pada tanggal 12 Desember 2009, TK Aisyiyah 48 Puloasem Jakarta Timur, berkeliling Taman Mini naik kereta api mini.  Kereta ini berukuran mini dan setiap gerbong bisa memuat 25 penumpang.  Setiap rangkaian terdiri dari tiga gerbong.  Berdasarkan informasi yang saya peroleh, lokomotifnya berasal dari pabrik tebu di Jawa Tengah.
Sebelum naik kereta api,  mereka menonton di Teater Imax Keong Emas (Film The Living Sea). Terakhir mereka berkunjung ke Dunia Air Tawar dan Serangga.(ironis sekali...sekarang kereta api mini tidak beroperasi lagi)

Selasa, 08 Desember 2009

Saya hanya ingin menjadi marketing

Ketika saya memutuskan untuk menjadi marketing sebelas tahun yang lalu, maka tidak  terbayangkan jika saya sekarang ini merubah arah lagi.  Saya ingin menjadi marketing sampai akhir hidup saya.  Dulu, saya  berganti profesi dan berpindah-pindah tempat kerja berkali-kali mulai dari petani sampai guru sekolah. 
Saya di bagian marketing selalu berusaha untuk bekerja sebaik-baiknya, mengikuti aturan yang berlaku, tanpa mengeluh, tanpa protes. Tapi ternyata hidup dalam suatu lingkungan kerja tidak mulus sesuai dengan keinginan.  Ada saja isu-isu yang membuat hati saya menjadi kepikiran.   Apa iya saya akan dipindah kebagian lain ?  Bagian yang belum tentu saya bisa menyesuaikan diri?  Bagaimana kalau itu terjadi?
Saya sudah bertekad bulat untuk tetap menjadi marketing, meskipun hujan dan badai sekalipun.   Itulah tekad  saya.  Sekali saya bergeming, maka seluruh bangunan yang saya susun satu demi satu selama belasan tahun akan runtuh dan tidak cukup waktu untuk membangun kembali.
Umur saya  memang sudah kepala empat, tapi marketing sudah menjadi pilihan saya.   Jika orang lain menghendaki saya pindah, dengan berbagai alasan, maaf saya tidak bisa memenuhinya.
Inilah perjalanan saya mencari order keluar dari wilayah kerja saya, inilah  bukti bahwa saya mencintai pekerjaan saya.  Pada tanggal 7 Desember 2009 saya  berkunjung ke sekolah dan perusahaan yang ada di Karawang.  Semoga ada hasilnya dikemudian hari.  Amien.